-->

Peranan Walisanga dalam Prosees Penyebaran Islam di Indonesia


Walisanga merupakan ulama-ulama yang berjasa dalam penyebaran Islam di Jawa. Wali adalah sebutan bagi orang-orang yang memiliki pengetahuan agama sangat dalam dan sanggup berjuang untuk agamanya. Oleh karena mereka sangat dekat dengan Allah maka mendapat gelar Waliullah (orang yang sangat dikasihi Allah). Disebut Wali Sanga karena jumlah mereka ada sembilan (Sanga dalam bahasa Jawa artinya sembilan).

Di bidang agama, Walisanga berperan sebagai juru dakwah, guru, dan pemimpin kegiatan keagamaan. Mereka juga berperan besar dalam pencetakan kader-kader juru dakwah melalui pondok pesantren yang mereka miliki. Pondok pesantren ini kemudian menjadi salah satu saluran Islamisasi yang penting pada awal perkembangan Islam di Indonesia.

Baca juga:materi singkat proses masuknya Islam ke indonesia

Di bidang politik, Walisanga berperan sebagai penasehat raja, panglima perang, bahkan ada pula yang menjadi raja. Peran sebagai panglima perang dan raja, misalnya ditunjukkan oleh Fatahillah yang dikenal sebagai Sunan Gunung Jati. Di bidang sosial budaya, Walisanga berperan mengubah kehidupan sosial budaya pra-lslam menjadi tata masyarakat Islam.

Cara yang digunakan oleh Walisanga/ulama dalam menyebarkan agama Islam antara lain sebagai benikut:

1. Sunan Gresik (Maulana Malik lbrahim atau Syekh Maulana Magribi)
Pada tahun 1404 Ia tiba di Jawa dari Pasai dan menetap di Leran, Gresik. Dengan kehalusan budi pekerti dan kedermawanannya ia mengajarkan agama Islam mula-mula kepada para murid yang kebanyakan adalah para pedagang dari Gujarat. Pada tanggal 9 April 1419 ia wafat dan dimakamkan di Gresik. Berkat jasanya, Gresik menjadi pusat penyiaran agama Islam di Jawa Timur.

2. Sunan Ampel (Raden Rahmad atau Sayid Ali Rahmatullah)
la didatangkan dari Campa oleh Raja Kertabumi pada zaman Majapahit. Oleh raja ia ditugaskan untuk memperbaki akhlak rakyat Majapahit yang mulai rusak. la mendirikan pondok pesantren di Ampeldenta, Surabaya. Sunan Ampel menyebarkan agama Islam di Surabaya dan sekitarnya. Meninggal pada tahun 1481 dan dimakamkan di Ampel.

3. Sunan Bonang (Raden Makhdum brahim)
Semasa muda, ja belajar agama lslam di Pasai. Sekembali dari Pasai, ia mendirikan pesantren di Tuban. Disebut Sunan Bonang karena dalam rangka melakukan dakwah ia mempergunakan bonang (salah satu instrumen gamelan Jawa) untuk menarik orang-orang supaya datang. la meninggalkan karya sastra, yaitu "Primbon Sunan Bonang".

4. Sunan Gunung Jati
la mempunyai sebutan nama yang banyak, antara lain: Fatahillah, Faletehan, Syarif Hidayatullah, dan Muhammad Nurudin. Sunan Gunung Jati belajar agama Islam di Mekah dan Baghdad, dalam perjalanannya ke Jawa, singgah di Gujarat dan Pasai. Mula-mula ja menyebarkan agama Islam di Demak, selanjutnya meluaskan ke wilayah Jawa Barat (Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon). Sunang Gunung Jati berjasa dalam mendirikan kerajaan Islam Banten dan Cirebon.

5. Sunan Drajat (Raden Syarifuddin atau Masih Munat)
la mempelajari agama Islam dari para wali pendahulunya. Sunan Drajat mendirikan pesantren di dusun Drajat, Pacitan, Lamongan. Untuk memasyarakatkan ajaran agama Islam, ia mengubah syair-syair Pangkur (tembang Jawa). Selain itu, ia juga mempergunakan gamelan Jawa sehingga lebih menarik bagi penduduk pribumi. Sisi lain daya tarik pribadinya adalah perhatiannya kepada orang miskin, yatim piatu dan orang-orang terlantar.

6.Sunan Giri (Raden Paku atau Sultan Abdul Faqih)
Belajar agama Islam pertama kali di Ampel, kemudian melanjutkan ke Pasai bersama Sunan Bonang. ia mendirikan pesantren "Prabu Giri Satmata" di Sidomukti, Gresik. Dalam menyebarkan agama, ia menciptakan lagu-lagu dolanan yang bernafaskan lslam, seperti Jamuran, llir-ilir, dan Cublak-cublak Suweng.

7. Sunan Kalijaga (Raden Mas Syahid atau Raden Setya)
Nama kecilnya adalah Raden Mas Sahid putra Tumenggung Sahur Wilwatikta, bupati Tuban. Sunan Kalijaga menikah dengan Dewi Surah binti Maulana Ishaq dan memiliki tiga
orang putra. Semasa muda ia berguru pada
Sunan Bonang, sehingga dalam berdakwah ia menggunakan gaya Sunan Bonang. yakni mempergunakan wayang dan gamelan Jawa untuk menarik massa dan menanamkan
ajaran-ajaran di hati masyarakat Jawa. la mendirikan pesantren di Kadilangu, Demak dan meņdapatkan banyak murid. Murid-muridnya yang terkenal yaitu: KiAgeng Pandanaran, Sunan Goseng, Empu Supa, dan Syekh Domba.

8. Sunan Kudus (Ja'far Shadiq)
Pernah belajar agama Islam di Arab. Seusai belajar agama, Ia mendirikan pesantren di Kudus. Ia seorang Pujangga Islam yang
menguasai berbagai keagamaan, terutama tauhid, hadits, dan fiqih. lajuga berhasil meluruskan ajaran Islam yang diselewengkan oleh beberapa tokoh seperti Syekh Siti Jenar, Kebo Kenanga, dan KiAgeng Pengging.

9. Sunan Muria (Raden Umar Said)
Bersama Sunan Kudus ia pernah berguru kepada Ki Ageng Ngerang. Seusai mempelajari agama lslam, ia mendirikan padepokan di kaki Gunung Muria, tempat menyampaikan ajaran-ajaran Islam kepada para muridnya.

Nah hanya itu yang daat saya sampailan, lebih dan kurang saya meminta maaf dan apabila ada kesalahan dalam penulisan kata, saya harap anda bisa mengajukan kritikan di bawah kolom komentar tersebut.

Terimakasih sudah berkunjung dan terimakasih sudah membaca blog kami sampai akhir, semoga kita bisa sama sama belajar dalam menambah wawasan yang menjadikan diri kita lebih baik lagi.

1 Response to "Peranan Walisanga dalam Prosees Penyebaran Islam di Indonesia"

emzamzamy said...

Semoga dapat menambah wawasan kita semua

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel